Detail Metadata Indikator Statistik
Jumlah Kasus Penyakit yang Dapat dengan Imunisasi(PD3I) menurut Jenis Kelamin, Kecamatan, dan Puskesmas
| Nama Indikator | Jumlah Kasus Penyakit yang Dapat dengan Imunisasi(PD3I) menurut Jenis Kelamin, Kecamatan, dan Puskesmas |
|---|---|
| Konsep | Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I) adalah kelompok penyakit menular yang dapat dicegah melalui pemberian imunisasi dasar lengkap dan lanjutan. Contohnya: campak, rubela, difteri, pertusis, tetanus, hepatitis B, polio, dan tuberkulosis (BCG). Indikator ini mencatat jumlah kasus PD3I yang ditemukan, dikelompokkan berdasarkan jenis kelamin pasien, wilayah kecamatan, dan puskesmas penemu/lapor. Tujuannya adalah untuk memantau keberhasilan program imunisasi serta mendeteksi adanya potensi KLB (Kejadian Luar Biasa). |
| Definisi | Penyakit Difteri Penyakit infeksi yang disebabkan oleh kuman Corynebacterium Diphtheria ditandai dengan adanya peradangan pada tempat infeksi, terutama pada selaput bagian dalam saluran pernapasan bagian atas, hidung, dan juga kulit. Penyakit Pertusis Penyakit menular yang di sebabkan oleh bakteri Bordetella pertussis yang menyerang saluran pernafasan dan biasanya terjadi pada anak berusia dibawah 1 tahun. Penyakit Tetanus Neonatorum Penyakit tetanus yang terjadi pada neonatus (0-28 hari) yang disebabkan oleh Clostridium tetani, yaitu kuman yang mengeluarkan toksin (racun) dan menyerang sistem saraf pusat. Hepatitis B Peradangan pada sel-sel hati, yang disebabkan oleh infeksi virus Hepatitis B dari golongan virus DNA. Suspek Campak Penyakit yang sangat menular (infeksius) disebabkan oleh virus RNA dari genus Morbilivirus, dari keluarga Paramyxoviridae yang mudah mati karena panas dan cahaya. Gejala klinis campak adalah demam (panas) dan ruam (rash) ditambah dengan batuk/pilek atau mata merah. |
| Interpretasi | Jumlah kasus rendah ? Menunjukkan cakupan imunisasi yang baik dan perlindungan masyarakat tinggi, atau bisa juga karena under-reporting (pelaporan rendah). Jumlah kasus meningkat ? Perlu diwaspadai kemungkinan cakupan imunisasi menurun, adanya kelompok rentan, atau penularan aktif di masyarakat. Data per jenis kelamin dapat menunjukkan kelompok yang lebih rentan atau terpapar. Analisis per kecamatan dan puskesmas berguna untuk menentukan lokasi prioritas intervensi imunisasi atau investigasi KLB. |
| Metode Perhitungan | Case Fatality Rate (difteri/ t.neonatorum) = Jumlah penderita (difteri/t. neonatorum) yang meninggalpada wilayah dan periode tertentu Jumlah penderita (difteri/t. neonatorum)pada wilayah dan periode yang sama x 100% Incidence Rate suspek campak (per 100.000 penduduk) = Jumlah kasus suspek campak di suatu wilayah pada kurun waktu tertentu Jumlah penduduk di suatu wilayah pada kurun waktu yang sama x 100.000 |
| Rumus | $CaseFatalityRatedifteri/t.neonatorum=Jumlahpenderitadifteri/t.neonatorumyangmeninggalpadawilayahdanperiodetertentuJumlahpenderitadifteri/t.neonatorumpadawilayahdanperiodeyangsamax100\%,IncidenceRatesuspekcampakper100.000penduduk=JumlahkasussuspekcampakdisuatuwilayahpadakurunwaktutertentuJumlahpendudukdisuatuwilayahpadakurunwaktuyangsamax100.000$ |
| Ukuran | Total |
| Satuan | Kasus |
| Variabel Disaggregasi/ Klasifikasi Penyajian | Wilayah |
| Apakah Indikator Komposit | Tidak |
| Indikator Pembangun | - |
| Variabel Pembangun | Kasus Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I) |
| Level Estimasi | Kabupaten/Kota |
| Apakah indikator dapat diakses umum | Ya |
| Kegiatan Statistik | Kompilasi Data Profil Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan 2025 |